(via vanillacoffe)
(via vanillacoffe)
#pathdaily – View on Path.
Sah-sah saja jika kamu pergi menyusuri jalanan kota sendirian. Sah-sah saja jika kamu pergi berkeliling di mall, singgah di satu toko ke toko yang lain. Tapi jika di depanmu kamu melihat banyak pasangan bergandengan tangan sambil tertawa bahagia, kamu tahu kamu harus segera pergi dari tempat itu. Karena hal itu akan membuatmu teringat padanya. Pada hangat tangannya yang menggenggam tanganmu saat itu. Pada erat rangkulnya yang menjagamu. Dan pada tawanya saat kalian bersama.
Sama halnya jika toko yang kamu singgahi mulai memutar lagu-lagu sedih. Kamu tahu kamu tidak perlu berlama-lama disana karena hal itu akan membuatmu sadar akan kesendirianmu dan teringat padanya. Buang saja Adele, Ed Sheeran, atau Sam Smith dari playlist handphone kamu dan isi playlist kamu dengan lagu-lagu gembira.
Untuk kamu yang sedang patah hati…
Kamu tidak perlu menghindari dunia dan menangis sendirian di kamar.
Kamu bebas untuk tertawa diluar sana.
Yang kamu butuhkan hanya waktu.
Waktu akan membuatmu melupa.
Waktu akan mengajarkanmu untuk merela.
Jangan pernah ragu untuk melepaskan ikatan yang membuat pikiranmu bagai lautan yang tak kenal tenang. Berhentilah membuat pemakluman, karena memaksakan diri untuk memaklumi keadaan yang seperti itu hanyalah membohongi diri sendiri.
Hidup bukan cuma perkara perut yang kenyang dan tong yang nyaring karena kosong, tapi lebih dari itu ada jiwa yang ingin tenang - meski pun di luar sangat riuh.
Rumah ada di jiwa. Dan rumah yang nyaman untuk dihuni bukanlah rumah yang gelisah.
. – View on Path.
Gue nyadar untuk melupakan kita gak perlu ngotot. Pelan-pelan aja. Karena itu semua butuh waktu. Sebelum ada dia, gue terbiasa makan sendiri, jalan sendiri, gak perlu ngabarin gue ada dimana, gak perlu terjaga sampe tengah malam nungguin telepon dari dia, gak perlu bangun pagi-pagi biar bisa ngucapin selamat pagi ke dia. Dan hidup gue fine-fine aja sebelum ada dia. Jadi gue pasti akan baik-baik aja tanpa dia. Gue cuma perlu terbiasa tanpa dia.